Kamis, 08 Juli 2010

Mengenal Kehendak dan Hati Tuhan Yesus.

"Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari korban-korban bakaran." (Hosea 6:6)

Banyak orang berkata mengasihi Tuhan, bahkan sering kita lantunkan dalam sebuah tajuk pujian seperti yg berbunyi: "Aku mengasihi Engkau, Yesus, dgn segenap hatiku." Namun seringkali kontras dgn tindakan kita atau kenyataan yg ada. Bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan jika tidak mengenal pribadi-Nya? Pengenalan akan Tuhan bukan sekedar tahu Dia adalah Yesus Juruselamat manusia. Mengenal Tuhan berarti kita punya hubungan karib dgn-Nya. Tahu apa kehendak & isi hati-Nya, memahami apa saja kesukaan-Nya atau pun yg Dia benci sekalipun. Kita harus benar-benar menjaga perasaan hati Tuhan supaya tidak tersakiti oleh apa yg kita perbuat.
Tuhan Yesus tidak pernah meminta balasan berbentuk harta, jabatan, atau kesibukan kita, yg Dia minta adalah kasih setia dan pengenalan akan Dia. "Tingallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku." (Yohanes 15:4).

"Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah." (1 Korintus 8:3)

Tuhan Yesus Memberkati.

Damai Duniawi atau Damai Sejahtera Allah

"Sekiranya kamu menaati hukum-hukum-Ku, maka kamu merasakan damai sejahtera seperti sungai yg tenang dan tidak pernah kering. Kebenaranmu akan seperti gelombang-gelombang laut yg tidak pernah berhenti." (Yesaya 48:18 FAYH)

Dunia menawarkan damai yg dapat diperoleh ketika setiap orang memiliki harta melimpah, harga diri pd kedudukan yg tinggi atau meraih kesuksesan tertentu dalam hidup ini. Dgn berusaha keras agar harapan untuk menikmati damai sejahtera itu terwujud. Keinginan mereka hanya agar hati terhibur senang dan stres hilang. Mungkin mereka bisa tertawa lepas sepanjang malam, tapi bukan mengalami damai. Itu hanya kelegaan hawa nafsu-damai duniawi yg sesaat. Banyak orang Kristen terjerat di dalamnya.

Tidak ada damai sejahtera sejati yg lain selain hanya di dalam Yesus Kristus. Bila kita sudah mulai merasakan kehampaan hidup, itu tandanya kita tidak damai sejahtera dan kita sedang menjauh dari Sang Sumber Damai Sejahtera Sejati. Ketika kita membangun keintiman brsama Tuhan dgn menyediakan waktu untuk merenungkan firmanNya siang & malam, maka kasih-Nya akan selalu mengalir memenuhi hati kita. Lewat ketenangan & saat teduh, di saat hati kita merasakan KASIH TUHAN, saat itulah kita bisa alami Damai Sejahtera Allah. Firman Tuhan sarat dgn perintah dan janji-janji-Nya. Kita akan menerima damai sejahtera pd janji-janji-Nya jika kita pun mengerjakan apa yg jadi bagian kita. Damai Sejahtera Allah tersedia bagi orang-orang yg setia dan taat pada-Nya. "..roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Mat. 26:41b).

"Tetapi tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang jahat." Demikianlah firman TUHAN." (Yesaya 48:22 FAYH)

Tuhan Yesus Memberkati.

Senin, 05 Juli 2010

Seperti Keluarga

"Mereka yang telah dipilih oleh Allah, telah juga ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus. Dengan demikian Anak itu menjadi yang pertama di antara banyak saudara-saudara." (Roma 8:29 BIS)

Sejak dari awal rencana Allah adalah membuat kita menjadi seperti Anak-Nya, Yesus Kristus. Dalam semua ciptaan-Nya, hanya manusia yg sengaja diciptakan menurut gambar Allah. Ini adalah kehormatan besar dan memberi kita martabat yang tinggi. Namun gambaran serupa dgn Allah, telah menjadi rusak karena perbuatan dosa. Maka Allah mengutus Yesus Kristus dgn suatu misi untuk mengembalikan citra Allah seutuhnya. Orang yg percaya Kristus sering menggunakan ungkapan "seperti bapa/ayah, seperti anak" untuk merujuk kepada kemiripan pada sebuah keluarga. Ketika orang lain melihat figur gambaran saya di wajah anak-anak saya, itu menyenangkan hati saya. Tuhan juga ingin anak-anak-Nya pun memancarkan gambaran rupa yg sama dgn-Nya.

"Jika Saudara sungguh-sungguh telah mendengar suara-Nya dan telah belajar dari Dia mengenai kebenaran-kebenaran ttg diri-Nya, maka buanglah sifat lama yg jahat itu, yg menjadi sekutu Saudara dalam melakukan hal-hal yg jahat, yg sama sekali busuk, penuh dgn hawa nafsu dan tipu daya. Sekarang semua sikap dan pikiran Saudara harus selalu menjadi makin baik. Ya, Saudara harus menjadi manusia baru, yg baik dan kudus. Kenakanlah sifat yg baru itu. (Efesus 4:21-24 FAYH)

Tuhan Yesus Memberkati.

Sabtu, 03 Juli 2010

Melayani Allah dengan Melayani Orang Lain

"Siapa saja yang ingin menjadi besar harus menjadi pelayan." (Markus 10:43 MSG)

Dunia mendefinisikan makna kebesaran dari segi kuasa, harta, prestasi, dan jabatan. Dalam budaya kita, "aku adalah yg pertama". Melakukan segala sesuatu seperti seorang pelayan bukan merupakan gaya hidup yg sama sekali tidak menguntungkan. Namun bagi Tuhan Yesus, kebesaran seseorang bukan diukur dr status melainkan bagaimana pelayanannya.
Allah menentukan kebesaran kita dgn berapa banyak orang yg bisa kita layani, bukan berapa banyak orang yg melayani kita.

Setiap orang ingin memimpin, tidak seorang pun ingin menjadi pelayan. Banyak orang menjadi lebih suka menjadi "hamba yg memimpin" bukan menjadi hamba pelayan biasa. Jika kita ingin mengikuti gaya hidup Yesus dlm melayani, kita harus menghapus berbagai syarat, seperti berpusat pd diri sendiri dan bisa memerintah orang lain.
Meskipun kita tahu pentingnya melayani Tuhan, tanpa memiliki hati seorang hamba, kita akan tergoda untuk menyalahgunakan pelayanan kpd Tuhan hanya utk keuntungan pribadi. Seringkali Allah menguji hati kita dgn meminta kita untuk melayani dgn cara-cara sederhana. Jika kita melihat seseorang jatuh, Allah mengharapkan kita membantu dia berdiri, bukan dgn berdalih, "Aku tidak begitu kuat menarik dia utk berdiri."

Apa yg kita lakukan menunjukkan bagaimana bentuk pelayanan kita, tetapi dgn hati seorang hamba, akan menunjukkan kedewasaan kita. Semua orang bisa melayani, yg diperlukan hanyalah memiliki hati dan karakter seorang pelayan. (baca. Matius 7:15-16).

Tuhan Yesus Memberkati.

Jumat, 02 Juli 2010

Identitas Sejati yang Diperlukan.

"Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!. Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yg disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan kujadikan penjala manusia. Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia." (Matius 4:17-20 BIS)

Tugas-tugas, karir, profesi dan apapun yg kita kerjakan adalah cerminan jati diri kita-identitas kehidupan di dunia. Namun pada saat semua itu tidak lagi kita kerjakan, apa yg akan kita jadikan acuan sbg identitas jati diri kita? Siapa identitas sejati kita yg sesungguhnya?

Siapa diri kita yg sesungguhnya, hanya dapat ditemukan di dalam relasi kita dgn Tuhan Yesus. Identitas ini yg akan mengemudikan tingkah laku kita. Matius, sbg seorang pemungut cukai di Kerajaan Romawi adalah salah satu contoh. Perjalanan hidupnya saat itu dipenuhi dgn keserakahan. Namun segalanya berubah ketika Yesus muncul dan mengundang Matius untuk mengikuti-Nya.

Yesus adalah Pribadi yg meyakinkan, dan Dia masih mencari pengikut. Dia ingin membuat hidup kita menjadi bermakna dgn memberikan kpd kita identitas sbg pengikut Kristus. Hal ini bukan berarti kita harus melepaskan karir kita, tetapi kita akan siap mengerjakan tugas-tugas dalam perjalanan hidup kita sesuai dgn kehendak dan jalan-Nya.
Mari kita berseru pd Tuhan Yesus, agar kita mengikuti-Nya dgn iman dan tiap hari terus belajar utk menyenangkan-Nya dalam segala hal yg kita lakukan.

Jika kita adalah pengikut Yesus, hanya itu identitas sejati yg kita perlukan saat ini.

Tuhan Yesus Memberkati.